Outbound yaitu kesibukan di alam terbuka. Outbound juga dapat memacu motivasi belajar. Outbound yaitu sarana penambah wawasan pengetahuan yang didapatkan dari serangkaian pengalaman berpetualang sehingga dapat mengasah motivasi dan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, Kimpraswil mengucapkan bahwa outbound merupakan usaha olah diri (olah pikir dan olah jasmani) yang sangat berkhasiat bagi peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja dan prestasi dalam rangka melakukan tugas dan kepentingan organisasi secara lebih baik lagi ( http://www.kimpraswil.go.id/ itjen/ news/2003/ij0306251.html yang direkam pada 5 Okt 2007 11:58:37 GMT).
Kegiatan outbound bermula dari sebuah pengalaman sederhana seperti bermain. Bermain juga membikin tiap anak merasa bergembira, dan gembira. Dengan bermain si kecil dapat belajar menggali dan mengoptimalkan potensi, dan rasa ingin tahu serta meningkatkan rasa percaya dirinya. Oleh karena itu, bermain yakni fitrah yang dialami setiap anak.
Pengalaman adalah guru dalam pelaksanaan pelajaran secara alami. Semisal, seorang si kecil mengalami proses alami bermain. Kegiatan itu dalam rangka menambah dan mengoptimalkan pengetahuan dari tiap pengalamannya. Jadi, tak menutup kemungkinan siapa saja mempunyai hak bermain bagus si kecil-si kecil, remaja, orang dewasa maupun orang tua. Sebab belajar dari sebuah pengalaman dalam aktivitas bermain dihasilkan sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan yang dapat dilaksanakan di ruangan terbuka atau tertutup.
Menurut latar belakang hal yang demikian outbound merupakan perpaduan antara permainan-permainan simpel, permainan ketangkasan, dan olah raga, serta diisi dengan petualangan-petualangan. Aktivitas itu yang akhirnya menyusun adanya unsur-faktor ketangkasan, dan kebersamaan serta keberanian dalam menuntaskan persoalan. Seperti halnya Iwan menegaskan bahwa permainan yang diberi tahu dalam outbound memang telah dibentuk sedemikian rupa, sehingga bukan cuma psikomotorik (fisik) peserta yang tersentuh tapi juga afeksi (emosi) dan kognisi (kecakapan berdaya upaya) (http://www.peloporadventure.co.id/manfaat.html yang direkam pada 21 Juli 2007 20:42:48 GMT).
2. Manfaat dan Tujuan Outbound
Kegiatan belajar di alam terbuka seperti outbound bermanfaat untuk meningkatkan keberanian dalam bertingkah maupun berpendapat. Kesibukan outbound menyusun pola pikir yang kreatif, serta meningkatkan kecerdasan emosionil dan spiritual dalam berinteraksi. Kegiatan ini akan menambah pengalaman hidup seseorang menuju sebuah pendewasaan diri.
Pengalaman dalam aktivitas outbound memberikan usul yang positif dalam perkembangan kedewasaan seseorang. Pengalaman itu mulai dari pembentukan golongan. Kemudian tiap-tiap golongan akan menghadapi bagaimana metode berkerja sama. Bersama-sama mengambil keputusan dan keberanian untuk mengambil risiko. Metode klasifikasi akan meng-hadapi tantangan dalam memikul tanggung yang patut dilalui.
Tujuan outbound secara awam untuk menumbuhkan rasa percaya dalam diri guna memberikan pengerjaan terapi diri (mereka yang berkelainan) dalam berkomunikasi, dan menimbulkan adanya saling pengertian, sehingga terciptanya saling percaya antar sesama. Ancok malahan menegaskan dalam bukunya Outbound Management Training (2003: 3) bahwa:
Cara pelatihan di alam terbuka juga digunakan untuk kepentingan terapi kejiwaan (lihat Gass, 1993). pelatihan ini dipakai untuk meningkatkan konsep diri anak-buah hati yang jahil, buah hati pencandu narkotika, dan kesusahan di dalam kekerabatan sosial. Cara yang sama juga diaplikasikan untuk memperkuat relasi keluarga ber-persoalan dalam program family therapy (terapi keluarga). Afiatin (2003) dalam penelitian disertasinya sudah mengaplikasikan pelatihan outbound untuk penangkalan pengguna obat terlarang (narkoba). Dalam penelitiannya Afiatin menemukan bahwa penggunaan metode outbound kapabel meningkatkan ketahanan kepada godaan untuk memakai narkoba. Kegiatan itu dilaporkan pula oleh Afiatin, penelitian yang dijalankan oleh Johnson dan Johnson bahwa kegiatan di dalam outbound training dapat meningkatkan perasaan hidup bermasyarakat (sense of community) diantara para peserta latihan.

Tujuan outbound menurut Adrianus dan Yufiarti, dalam jurnal Memupuk Karakter Siswa lewat Aktivitas Outbound (2006: 42) yakni untuk:
1) mengidentifikasi tenaga dan kelemahan diri siswa;
2) berekspresi layak dengan caranya sendiri yang masih dapat diterima lingkungan;
3) mengenal dan memahami perasaan, pendapat orang lain dan menghargai perbedaan;
4) membangkitkan motivasi dan motivasi untuk terus terlibat dalam kesibukan-aktivitas;
5) lebih mandiri dan bertingkah pantas dengan harapan;
6) lebih empati dan peka dengan perasaan orang lain;
7) sanggup berkomunikasi dengan bagus;
8) mengenal sistem belajar yang tepat sasaran dan kreatif;
9) memberikan pemahaman terhadap sesuatu seputar pentingnya karakter yang baik;
10)menanamkan poin-poin yang positif sehingga terwujud karakter siswa sekolah dasar lewat berbagai contoh riil dalam pengalaman hidup;
11) memaksimalkan kualitas hidup siswa yang berkarakter;
12) mengaplikasikan dan memberi figur karakter yang baik kepada lingkungan.
Dari uraian di atas jelas bahwa outbound bertujuan sebagai pengerjaan terapi individu dan terapi keluarga atau klasifikasi yang mengalami kesenjangan. Terapi individu seumpama pada buah hati yang mengalami penyimpangan seperti anak bandel, buah hati pemakai narkoba, anak yang mengalami gangguan kekerabatan sosial (anak berkebutuhan khusus). Bagus terapi keluarga atau kategori yang mengalami kesenjangan sosial sehingga memerlukan penyegaran (refresh). Contohnya dengan mengadakan rekreasi dan atau mengadakan aktivitas outbound. Misalnya saja pada sebuah kelompok atau lembaga mengadakan kegiatan outbound setahun sekali dalam rangka meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan kualitas karyawan dan perusahaan.
Aktivitas outbound individu atau klasifikasi akan menerima manfaat yang beragam. Mulai dari menambah pengalaman baru. Berbuat rasa keberanian. Membagun rasa kebersamaan. Komunikasi yang tepat sasaran antarsesama. Bisa sesuai dengan situasi dan situasi. Memahami setiap kelebihan maupun kekurangan yang ada pada dirinya ataupun orang lain. Kecuali menimbulkan rasa saling menghargai dalam tiap-tiap keputusan. Kegiatan itu juga outbound berkhasiat sebagai progres berlatih mengasah sistem berdaya upaya seseorang agar senantiasa sistematis.

Manfaat Outbound yang lain:
Tipe jenisnya, outbound dengan bermacam jenis petualangan (adventure) dan permainan (games) yang umum dikerjakan hakekatnya memiliki manfaat yang bermacam, di antaranya:
(1) komunikasi tepat sasaran (effective communication)
(2) pengembangan regu (team building)
(3) pemecahan persoalan (situasi sulit sulving)
(4) kepercayaan diri (self confidence)
(5) kepemimpinan (leadership)
(6) kerja sama (sinergi)
(7) permainan yang menghibur dan menyenangkan (fun games)
(8) konsentrasi/fokus (concentration)
(9) kejujuran/sportivitas.
Karena manfaat tersebut bermuara pada tercapainya pengembangan diri (personal development) dan tim (team development) yang bisa dinikmati oleh para peserta. Karena sukses seseorang dalam kehidupannya, terutamanya dalam karier bisnis dan organisasi, sungguh-sungguh ditentukan oleh kepercayaan diri (self efficacy), kesanggupan mengontrol emosionil, dan kesanggupan berinteraksi dengan orang lain. Para pakar di bidang kecerdasan emosi beranggapan bahwa berhasil dalam karier di perusahaan (juga di ranah kehidupan lainnya) lebih ditentukan oleh kecerdasan emosi dibandikan dengan kecerdasan intelektual. Oleh sebab itu, upaya untuk mengoptimalkan kecerdasan emosionil mendapat perhatian yang kian besar.
Ada beberapa ciri yang menandai apakah seseorang memiliki kecerdasan emosi yang baik. Ciri-ciri tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut:

Mentalitas Berkelimpahan (abundance Mentalitaty)
Sifat kepribadian ini dimiliki oleh orang yang suka membagi-bagi apa yang dimiliki kepada orang lain. Orang yang demikian senantiasa meras bahwa dengan memberikan apa yang ia miliki kepeda orang lain akan membikin dia merasa lebih kaya. Sifat ini yakni lawan dari mentalisasi yang pelit (scarcity mentality). Orang yang mempunyai sifat pelit senantiasa ketakutan dan ia tak akan menerima sesuatu sekiranya orang lain telah mendapatkannya.

Pikiran Positif pada Orang lain
Selain seseorang memiliki sifat ini, ia akan memandang orang lain sebagai komponen dari kebahagiaan hidupnya sendiri. Kegiatan itu ia senantiasa melihat sisi positiv hal-hal yang dikerjakan dan dipikirkan oleh orang lain. Covey (1990) menerapkan istilah seek first to understand than to be understood (berupaya mengerti orng lain lebih dahulu baru diri sendiri dimengerti). Orang yang memiliki sifat kepribadian ini tidak akan segera menarik kesimpulan perihal apa yang dikatakan orang lain sebelum dia paham apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Kemapuan Berempati
Sifat ini dimiliki oleh orang yang bisa menikmati apa yang dirasakan oleh orang lain. Budaya perasaan yang dimilikinya membuat ia gampang merasakan kegembiraan dan kesulitan orang lain. Orang yang tidak memiliki kecakapan berempati umumnya amat susah untuk berhubungan baik dengan orang lain. Perasaannya tumpul dalam memahami kebutuhan orang lain.

Komunikasi Transformasional
Sifat ini dimiliki oleh orang yang senantiasa memilih kata-kata yang sedap didengar telinga dalam berdialog pada orang lain, ia tetap memilih kata-kata yang menyejukan hati dan pikiran dalam merespons perbedaan hal yang demikian.

Berorientasi Sama-Sama Puas (Win-Win)
Sifat ini dimiliki oleh orang yangdalam interaksinya dengan orangselalu berharap membuat orang lain merasa bahagia dan dia juga bersuka ria. Orang yang demikian mempunyai rasa respek pada orang lain.

Sifat Melayani (Serving Attitude)
Orang yang memiliki sifat demikian ini amat bersuka ria melihat orang lain bergembira dan amat susah melihat orang lain sulit. Sifat ini yaitu lawan dari sifat egois yang hanya mementingkan diri sendiri atau golongannya sendiri. Orang yang mempunyai sifat melayani, apabila menjadi pemimpin, dia bukan minta dilayani melainkan melayani kepentingan oranng yang dipimpinnya.

Namun Apresiatif
Orang yang memiliki sifat ini menyukai memberikan apresiasi pada apa yang dijalankan oleh orang lain. Apresiasi yang dikasih pada orang lain membuat orang lain merasa dihargai.
Sifat-sifat diri itu memang tak seluruh dapat tercapai cuma dengan sebuah aktivitas outbound yang hanya berlangsung dalam hitungan hari(1-4 hari). Via, kigiatan outbound, secara khusus yang dirancang khusus untuk tujuan-tujuan tertentu, dapat menjadi starting point (titik pijakan) bagi seseorang untuk menemukan konsep diri dan perilaku yang lebih bagus pada hari-jari selanjutnya.
Dengan konsep-konsep interaksi antara peserta dan dengan alam, melalui aktivitas simulasi di alam terbuka, diyakini dapat memberikan suasana yang kondusif untuk membentuk sikap, sistem berdaya upaya, dan persepsi yang kreatif dan positif dari tiap-tiap peserta guna membentuk rasa kebersamaan, keterbukaan, toleransi, dan sensitifitas yang mendalam, yang pada harapnya akan kapabel memberikan semangat, inisiatif, dan pola pemberdayaan baru dalam kehidupannya.
Domisili simulasi outdoor activies ini, peserta juga akan cakap mengoptimalkan potensi diri, baik secara individu (personal development) ataupun dalam kategori (team development) dengan mengerjakan interaksi dalam format komunikasi yang efektif, manajemen perselisihan, persaingan pemimipin, manajemen reksiko,dan pengambilan keputusan serta inisiatif.

Ayo tamasya dengan hal yang baru!, hubungi kami Lenussa Adventure.
Email: Jl. Kolonel Masturi No. 116A Lembang 40391
Address: admin@lenussadventure.com isu@lenussadventure.com denis.iskandar@yahoo.co.id
Phone: 085222220040 / 083821744625